Showing posts with label logika. Show all posts
Showing posts with label logika. Show all posts

Friday, March 26, 2010

Meragukan Al-Qur’an? Na‘ûdzubillâh (2 of 8)

Berikut ini kasus terakhir yang benar-benar menguji logika kita, karena logika kita akan dibandingkan dengan logika anak kecil. Sehebat apakah logika kita dibandingkan anak kecil? Bila kita kalah, tidakkah itu berarti bahwa logika kita bukanlah segala-galanya?


Suatu hari, sebuah toko furniture mengirim perabotan rumah ke seorang pelanggan. Termasuk dalam daftar kiriman adalah sebuah almari besar dan mahal. Semuanya dikirim dengan sebuah truk. Setelah jalan beberapa lama, truk itu harus lewat di bawah sebuah viaduk (semacam jembatan layang/fly over). Ternyata, ketika sampai di tengah viaduk, truk tiba-tiba berhenti. Bagian atas almari tertahan oleh viaduk. Kalau terus maju, maka almari itu akan rusak. Begitu juga bila dimundurkan. Almari itu dicoba untuk dimiringkan (supaya posisinya berubah menjadi tidur), ke kiri, ke kanan, ke manapun, ternyata tidak bisa. Hingga beberapa jam, kondisi itu tak kunjung teratasi. Kemacetan pun tak terelakkan.


Nah, bagaimana logika kita menyelesaikan masalah ini? Bagaimana supaya almari tadi tidak rusak, karena harganya sangat mahal? Bisakah kita? Mari kita merenung sejenak, sebelum melihat jawabannya.

. . . . . . .
. . . . . . .
. . . . . . .

Setelah semua usaha tidak berhasil, ternyata ada seorang bocah lelaki kecil melintas naik sepeda mininya. Ia punya pengalaman yang mirip dengan yang dialami truk itu. Dengan polosnya ia mendekati sang sopir truk sambil berkata, “Ban truknya dikempesin saja, Om. Nanti kan almarinya tidak lagi tertahan, terus truknya didorong.” Duhai saudaraku, apakah logika kita menemukan solusi yang lebih hebat daripada logika anak kecil ini?


Iman jauh melampaui logika. Sahabat Abu Bakar ra. mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa Rasulullah diperjalankan oleh Allah menuju Masjid al-Aqsha (Isra’), padahal waktu itu logika manusia tidak mungkin membenarkannya. Namun, imanlah yang membuat Abu Bakar ra. meyakininya. Berabad-abad kemudian, barulah para ilmuwan menemukan pesawat atau roket yang bisa membuat orang pindah dari satu tempat ke tempat lain yang sangat jauh dalam waktu singkat. Bukankah itu berarti logika tertinggal berabad-abad dibandingkan iman? Layakkah kita mengatakan logika lebih hebat daripada iman?


Mungkin kita akan berkilah, “Kalau saya mempelajari Al-Qur’an dimulai dari iman, maka pasti benar semua dong. Padahal saya bermaksud untuk menilainya dengan tidak memihak.”


Baiklah kalau begitu. Para ilmuwan Fisika Quantum sudah menemukan “Hukum Tarik-Menarik (The Law of Attraction)”. Bila yang ada di pikiran kita positif, maka energi positif dari diri kita akan menarik semua energi positif yang ada di alam semesta. Begitu juga sebaliknya, bila energi negatif keluar dari mikrokosmos tubuh kita, maka makrokosmos juga mengirimkan energi negatif ke kita, karena kitalah yang meminta dan menariknya.


Bukankah sudah kita pahami bahwa tidak ada yang disebut tidak memihak? Semua tergantung pikiran kita. Kalau kita berpikiran baik, maka kita akan menemukan hal-hal baik. Jika pikiran kita dipenuhi oleh ketidakbaikan, maka kejelekan dan keburukanlah yang akan kita dapat. Itu semua ilmiah dan masuk akal. Sebagai contoh, seorang penjahat akan selalu curiga terhadap orang lain. Namun, orang baik tidak akan curiga, hanya waspada. Bukankah sudah jelas perbedaannya antara curiga dan waspada?


Contoh lain, sikap terhadap seorang teman. Cobalah berniat dan tetapkan pada pikiran kita bahwa kita akan mencari semua kekurangan dan kelemahan teman kita, sekecil apa pun. Kalau itu kita setting, pastilah kita akan menemukan banyak sekali kekurangan dan kelemahan teman kita, bahkan sampai hal-hal yang sangat kecil, yang diabaikan oleh orang lain. Namun, jika kita biasa-biasa saja tentang teman kita, maka kesalahan-kesalahan yang sangat kecil tidak akan nampak, karena kita sudah memerintahkan pikiran kita bahwa itu bukanlah sebuah masalah. Itu manusiawi dan wajar.


Intinya, jika kita mencari kebenaran, sah-sah saja kita mempunyai pendapat yang didasarkan pada logika, karena akal memang tercipta untuk mengokohkan iman. Namun, jika kita hanya ingin mencari pembenaran, maka akan tertutuplah kebenaran dari diri kita. Hal ini sudah terbukti, baik secara nash, yaitu bahwa Allah sesuai prasangka hamba-Nya maupun secara ilmiah.


Kalau kita memang benar-benar mencari kebenaran, itu akan terlihat dari sikap kita. Kita akan dengan senang hati dan rendah hati menerima ilmu dari orang lain. Kita cenderung untuk bertanya, bukan membantah apalagi “membantai” nasihat orang lain. Tujuan kita berdiskusi bukanlah untuk membenarkan pendapat, tapi mendapatkan ilmu sebanyak mungkin. Bila suatu saat kita berdialog dengan seseorang, namun orang itu kurang cakap, maka kita tidak mempermasalahkannya. Ilmu orang itu kita serap sebanyak mungkin. Kita tidak berdiskusi dengannya untuk membuktikan bahwa pendapat kitalah yang benar, valid dan uptodate. Kita mencari ilmu dengan membuka hati dan pikiran untuk menerima ilmu. Dengan demikian, kita akan memungut ilmu dan hikmah di mana pun berada, walaupun berasal dari anak kecil. Itulah ciri-ciri jika kita memang mencari kebenaran, bukan pembenaran.


Jika kita mencari kebenaran, maka iman harus tertanam di dalam dada. Sekarang, marilah kita pelajari bersama-sama tentang Al-Qur’an, untuk kemudian kita hayati dan amalkan dalam keseharian.


Al-Qur’an adalah wahyu suci yang terjaga dari segala yang berbau imajinasi dan ilusi, sehingga tidak mengandung kesia-siaan.


A-Qur’an adalah kitab yang isinya dinukil melalui cara yang benar-benar meyakinkan, diceritakan secara jujur, dan adil dalam keputusan.


Al-Qur’an adalah kitab suci yang merupakan sumber utama dan pertama ajaran Islam yang menjadi petunjuk kehidupan umat manusia.


Al-Qur’an adalah garis-garis besar haluan umat yang abadi, kebanggaan sekaligus kemuliaan bagi umat Islam.


Al-Qur’an adalah kitab abadi yang telah memerdekakan umat dari kesesatan menuju hidayah, membuka mata hati, memberi pelajaran dan menegakkan kepala.


Al-Qur’an adalah kumpulan wahyu Ilahi yang menjadi air kehidupan bagi ruhani manusia, juga rahmat yang tiada ada taranya bagi alam semesta.


Al-Qur’an adalah kitab suci terakhir yang diturunkan Allah, yang isinya mencakup semua pokok syariat yang terdapat dalam kitab-kitab suci sebelumnya.


Al-Qur’an adalah kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah dan terpelihara.


Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar, bagaikan intan yang setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda-beda.


Al-Qur’an adalah kitab yang tidak ada satu keraguan pun di dalamnya, sebagaimana tercantum dalam sebuah ayat:


ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لاَ رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ

Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (QS al-Baqarah [2]: 2)


Daftar Pustaka :

  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Nikmatnya Hidangan Al-Qur’an (‘Alâ Mâidati Al-Qur’an)”, Maghfirah Pustaka, Cetakan Kedua : Januari 2006
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni (Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006
  • M. Quraish Shihab, Dr, “‘Membumikan’ Al-Qur’an”, Penerbit Mizan, Cetakan XXX : Dzulhijjah 1427H/Januari 2007


Tulisan ini lanjutan dari :Meragukan Al-Qur’an? Na‘ûdzubillâh (1 of 8)
Tulisan ini berlanjut ke : Meragukan Al-Qur’an? Na‘ûdzubillâh (3 of 8)


#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, March 19, 2010

Meragukan Al-Qur’an? Na‘ûdzubillâh (1 of 8)

Hidup ini memang penuh keanehan. Entah apa maksudnya, namun ada juga orang yang berkata, “Kalau kita ingin mengecek kebenaran Al-Qur’an, maka kita tidak boleh memihak atas dasar iman. Dengannya, kita benar-benar obyektif dalam menilai Al-Qur’an. Itulah logika yang tepat untuk memutuskan sesuatu valid atau tidak, benar atau salah.”


Kembali ke prinsip awal, janganlah kita menyalahkan orang lain atas pernyataan mereka yang memang terdengar aneh. Mungkin mereka memang belum mengerti, sehingga mencari kebenaran, dan semoga bukan sekadar mencari pembenaran atas pendapat pribadi.


Kalau orang seperti itu hanya mencari pembenaran atas pendapatnya, maka butuh usaha ekstra keras untuk bisa berdialog dengannya. Ia sudah menutup pintu masuk pendapat orang lain. Pikirannya telah dikunci dan dibentengi dengan segala macam argumen. Kata-kata maupun intonasinya juga kurang enak didengar, cenderung melindungi diri, kurang bersahabat bahkan menjatuhkan. Yang lebih enak, bila orang itu ingin mencari kebenaran.


Namun demikian, marilah kita bahas pernyataan tersebut. Bukankah akal memang diciptakan untuk memperkokoh iman? Bukankah Nabi Ibrahim pun ingin ditunjukkan kekuasaan Allah untuk menghidupkan yang sudah mati? Bedanya, Nabi Ibrahim didahului iman, lalu di-“bumi”-kan dalam tataran akal. Sedangkan orang ini, dimulai dari akal, tanpa didahului iman. Semoga saja niatnya memang untuk mencari kebenaran, amin.


“Obyektif”, sebuah kata sakti dalam sebuah pendapat atau diskusi. Sebenarnya tidak ada yang disebut obyektif murni. Obyektif hakikatnya adalah subyektif. Kalau kita meminta pendapat pada si A tentang sebuah persoalan, maka dia akan berusaha untuk menyampaikan pendapat secara obyektif. Coba kita tanyakan hal yang sama pada 8 (delapan) orang yang lain. Dengan kata sakti “obyektif”, setiap orang juga akan memberikan pendapatnya. Pertanyaannya adalah, “Pendapat A yang katanya obyektif dan pendapat delapan orang lainnya yang juga obyektif, apakah sama? Ataukah berbeda? Jika memang berbeda, bukankah itu berarti pendapat-pendapat itu bersifat subyektif?”


“Logika”, sebuah kata sakti lain supaya dianggap modern dan ilmiah. Mari kita tanyakan pada logika tentang sebuah masalah. Contoh ini sudah kita ketahui bersama. Ada sebuah gelas yang berisi air setengahnya. Apa kata logika tentang kondisi ini? Logika pertama akan berkata, “Air di gelas itu separuh penuh.” Adapun logika yang lain mengatakan, “Air di gelas itu tinggal separuh.”


Siapa yang benar di antara kedua logika tersebut? Semuanya benar karena memang kondisinya seperti itu. Namun, efek yang ditimbulkan oleh masing-masing pernyataan sungguh sangat berbeda. Logika pertama akan membuat orang menjadi optimis, sedangkan logika kedua sebaliknya, membuat orang pesimis. Kenapa? Jawabannya sudah banyak dibahas di buku-buku tentang motivasi dan berpikir serta berjiwa besar. Jadi, tidak perlu lagi kita jelaskan di sini.


Logika juga yang menyatakan, “Setiap wadah menumpahkan isinya.” Sebuah teko akan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya. Bila diisi air putih, maka akan keluar air putih dari teko itu. Begitu pun bila diisi air susu, madu atau air comberan. Isi yang keluar sesuai dengan yang diisikan di dalamnya. Nah, kalau kita mau membahas Al-Qur’an tanpa didahului iman, hanya bermain logika, maka sudahkah otak kita terisi hal-hal yang baik dan hebat? Bukankah sudah diketahui bersama bahwa orang yang paling cerdas pun tidak sampai menggunakan 5% dari kemampuan otaknya? Lalu, sehebat apakah logika (kemampuan) kita?


Marilah kita lihat lagi secanggih apa logika kita. Di sini tidak ada benar atau salah, hanya untuk melihat kemampuan logika kita.


Suatu ketika, Thomas Alfa Edison menguji dua orang calon karyawan. Tesnya sederhana saja, yaitu mengukur volume sebuah bola lampu.


Calon karyawan pertama mengukur dengan teliti setiap bagian bola lampu, mulai jari-jari lingkaran, panjang, lebar, tinggi dan semua yang dibutuhkan. Dia melakukan perhitungan matematis yang cukup rumit, menggunakan rumus integral rangkap tiga (∫∫∫). Akhirnya, dia pun menemukan berapa volume bola lampu itu.


Calon karyawan kedua menggunakan cara lain. Dia mengisi bola lampu dengan air sampai penuh, kemudian air itu dituangkannya ke sebuah gelas ukur. Dari gelas ukur itulah diketahui berapa volume bola lampu yang dimaksud. Kedua-duanya berhasil menghitung volume bola lampu sesuai permintaan. Apakah logika kita bisa menemukan cara selain yang dipaparkan oleh dua calon karyawan itu?


Di sebuah perusahaan yang memproduksi sabun mandi batangan, ternyata ada kesalahan mesin. Ditemukan beberapa sabun mandi yang sudah terbungkus rapi, tapi isinya kosong. Bagian QC (Quality Control) jadi sibuk sekali karena harus memeriksa satu per satu sabun hasil produksi. Perusahaan itu akhirnya mendatangkan dua orang ilmuwan untuk memecahkan masalah tersebut, yaitu mengetahui sabun-sabun kosong dan memisahkannya dari sabun yang ada isinya.


Ilmuwan pertama melakukan analisis lengkap. Dia membuat sebuah studi kelayakan (feasibility study). Dia melakukan analisa secermat mungkin dengan menggunakan semua metode, yaitu Cost-Benefit Analysis, Risk Analysis dan Capital Investment Analysis. Dia menghitung dengan teliti tentang Payback Period, Cost-Benefit Ratio, Return on Investment (ROI), Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR). Setelah dikalkulasi, dia membutuhkan waktu 7 bulan dan dana sebesar Rp 700.000.000,- untuk membuat sinar infra merah lengkap dengan robot yang bisa menyingkirkan secara otomatis sabun-sabun kosong.


Ilmuwan kedua mengusulkan agar ketika sabun-sabun itu selesai diproduksi, dalam perjalanan menuju bagian packaging, dipasang saja sebuah kipas angin. Kipas angin itu diputar dengan kecepatan yang cukup untuk menerbangkan sabun-sabun kosong. Dua orang ilmuwan itu telah berhasil menemukan metode menemukan sabun kosong dan menyingkirkannya. Logika mereka sama-sama benar, walaupun beda caranya. Nah, logika kita akan memilih solusi yang mana? Ataukah kita punya solusi sendiri sesuai logika kita?


Para astronot mengeluhkan bahwa mereka tidak bisa menulis dengan pulpen ketika berada di angkasa. Kalau di bumi, tinta yang ada di pulpen bisa keluar dari tempatnya karena ada gravitasi bumi. Sedangkan di angkasa, gravitasi bumi kecil sekali, juga ada gaya sentripetal. Itu artinya tinta pulpen tidak akan pernah keluar, dan itu berarti para astronot tidak bisa menulis apa pun. Penulisan pada kertas tetap dibutuhkan, selain karena praktis, juga sebagai backup, bagian dari contingency atau disaster recovery plan. Dua orang fisikawan didatangkan.


Fisikawan pertama mengatakan akan melakukan penelitian. Dia akan membuat sebuah percobaan dengan menggunakan berbagai zat cair dan gas. Dia berharap akan menemukan sebuah pulpen jenis baru yang bisa digunakan untuk menulis di angkasa. Dia membutuhkan waktu selama 3 bulan dengan biaya Rp 255.255.000,-.


Ahli Fisika kedua mengatakan, “Kenapa kita harus menggunakan pulpen? Bukankah tujuan utamanya supaya bisa menulis? Pakai saja pensil. Di manapun kita berada, kita tetap bisa menulis, tidak perlu gravitasi.” Nah, condong ke pendapat siapakah logika kita? Atau, logika kita mempunyai pendapat sendiri?

Tulisan ini berlanjut ke : Meragukan Al-Qur’an? Na‘ûdzubillâh (2 of 8)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Toggle