Friday, January 15, 2010

Bakti Syeikh Abdurrahman bin Nasir Al-Barrak Pada Ibundanya

Syeikh Abdurrahman bin Nasir Al-Barrak[1] ialah salah seorang ulama Arab Saudi saat ini. Di sini, dipaparkan kisah betapa berbaktinya syeikh terhadap ibundanya dan syeikh hafizahullah

telah mencontohkan teladan yang sungguh ajaib dalam berbakti, terkhusus di zaman sekarang ini. Ibunda syeikh telah wafat sekitar 5 tahun silam. Berikut beberapa kisahnya tanpa perincian yang luas:

1. Syeikh Abdurrahman Al-Barrak hafizahullah dikenal hanya sedikit pergi haji. Sebabnya adalah tidak adanya persetujuan ibundanya rahimahallah. Beliau mulai berhaji lagi sejak Ibunya lemah ingatannnya dan bercampurnya sebahagian hal sehingga menjadi memberikan izin baginya untuk pergi haji

2. Syeikh Al-Barrak tidak pergi safar kecuali setelah diberi izin ibundanya.Suatu waktu,terjadi suatu permasalah di kampung halaman beliau di Albakiriyah daerah Al Qosim.Penduduk daerah tersebut meminta Syaikh untuk datang agar membantu menyelesaikan masalah tersebut karena kedudukan Syaikh yang berpengaruh dikalangan mereka.Maka Syaikh menyetujuinya untuk pergi asalkan dengan syarat jika diizinkan Ibunya.Maka sebagian sebagian saudara ibunya berbicara kepada Ibu Syaikh ,dan karena segan maka kemudian diizinkanlah Syaikh Al Barrak.Setelah saudara-saudara Ibunya pergi,maka sang Ibu berkata pada Syaikh Abdurahman bin Nashir Al Barrak :”Saya menyetujuinya karena mereka terus menerus meminta padaku”.

3. Syaikh Abdurrahman dalam safarnya ke Mekah dalam liburan musim panas tidaklah terputus dari menelepon ibunya. Tidak kurang dari dua kali menelepon ibunya dalam sehari.Bahkan beliau sempat memutuskan pelajaran yang sedang disampaikan dimana saat itu kami sedang membacakan kitab pada beliau di Masjidil Haram ,Syaikh menelepon ibunya dan kemudian disambung lagi pelajaran saat itu

4. Ibunda Syaikh tidaklah terus menerus tinggal bersama Syaikh.Berpindah-pindah,terkadang tinggal di rumah Syaikh namun terkadang di rumah anaknya yang lain (saudara kandung Syaikh).Tatkala tinggal dirumah Syaikh ,maka Syaikh Al Barrak tidak tidur dengan istrinya,tapi tidur bersama Ibunya dikamar Ibunya dengan maksud siap sedia memenuhi segala permintaan Ibunya

5. Diantara bentuk memenuhi hajat Ibunya,adalah Syaikh Al Barrak senantiasa berdiri menuntun memegangi tangan ibunya,karena Ibunya sudah lambat dalam berjalan.Syaikh mengantar untuk pergi ke kamar mandi sampai ibunya duduk dikursi khusus baginya.Kemudian Syaikh menunggu hingga ibunya menyelesaikan keperluannya di kamar mandi,setelah itu Ibunya diantar lagi ketempat semula.Ini semua dilakukan Syaikh,walaupun ada anak-anak perempuan Syaikh dan istrinya

6. Diantara bentuk bakti yang lain, Syaikh Abdurrahman Al Barrak hafidzahullah tidak pernah memutus kebiasaan Ibunya.Saya pernah membaca kitab dihadapan beliau disuatu hari dipelataran rumah beliau dipintu masuk khusus laki-laki.Pelajaran yang disampaikan Syaikh di sore hari biasanya tidak terputus kecuali apabila terdengar adzan maghrib.Tatkala menjelang adzan maghrib beliau meminta saya keluar dari rumah.Ini bukanlah kebiasaan Syaikh sebelumnya.Setelah Isya tiba-tiba Syaikh meneleponku di rumah,beliau meminta maaf dari kejadian dihari itu dan memberitahu bahwa dilakukannya hal tersebut karena Ibunya punya kebiasaan berwudhu untuk shalat maghrib di keran air disebelah pintu dimana kami tadi berada.

7. Syaikh Al Barrak sangat memperhatikan keinginan Ibunya.Adalah kebiasaan Syaikh bermajlis dengan tamu-tamunya hingga adzan tiba kemudian mereka keluar untuk sholat.Namun jika sedang ada ibunya ,maka Syaikh akan berdiri sebelum adzan tiba karena hal ini kesukaan Ibunya yang sholehah

8. Tatkala semakin parah sakit yang dialami ibunya,maka Syaikh berusaha mengobatinya,beliau tidur bersamanya serta memberinya makanan dan minuman.Bahkan Syaikh kami ini apabila selesai sholat shubuh dari masjid,beliau menyiapkan minuman ,kemudian memberikannya kepada Ibunya,atau terkadang mendinginkan minuman tersebut untuk ibunya.Semua ini dilakukan beliau dengan keadaan beliau yang buta matanya.Setelah itu beliau kembali ke masjid untuk menyampaikan kajian shubuh


[1] Usia Syeikh Abdurrahman bin Nasir Al-Barrak hafidzahullah saat ini 78 tahun.Beliau sudah menjadi yatim sejak balita,yakni saat umur setahun.Diusia 10 tahun beliau terkena penyakit dimatanya sehingga tidak bisa melihat sampai saat ini.Diantara guru beliau yang sangat berpengaruh adalah Al Allamah Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, dimana lebih dari 50 tahun belajar dengan beliau rahimahullah.Syaikh Ibn Baz seringkali meminta beliau untuk masuk lembaga fatwa namun ditolaknya.Syaikh bin Baz pun ridho pada Syaikh Al Barrak untuk menggantikannya berfatwa di Darul Ifta di Riyadh di saat musim panas tatkala para mufti pindah tempat ke kota Thaif, Syaikh Nashir Al Barrak ini dengan malu memenuhinya,namun itu dilakukan hanya dua kali,setelah itu ditinggalkannya.Setelah wafat Syaikh Bin Baz, seringkali Syaikh Alu Syaikh mufti sekarang meminta dengan sangat agar beliau menjadi anggota lajnah ifta namun beliau keberatan untuk memutus pelajaran yang biasa beliau sampaikan di masjid.

Sudah Beriman, Mengapa Hidup Masih Miskin? (5 of 8)

Di buku “Becoming A Star” dan “One Million 2nd Chances”, Mario Teguh menasihatkan banyak hal dengan penuh kebijakan. Marilah bersama-sama kita serap, perindah dan refleksikan.


Kehidupan ini adalah sebuah reality show yang tidak satu orang pun di antara kita akan berhasil keluar dengan tetap membawanya (maksudnya membawa serta kehidupan, karena kita akan mati), dan tidak akan ada lagi kesempatan untuk memperbaikinya nanti sesudah selesai (maksudnya sesudah meninggal).


Maka, marilah kita penuhi hidup ini dengan pemungkin keberhasilan, sekarang dan sesegera mungkin. Nikmatilah hidup ini, dan nikmatilah dengan memungkinkan diri ini mencapai kualitas tertinggi dari yang bisa kita capai, menyampaikan nilai pelayanan terbaik dari yang bisa kita berikan kepada sebanyak mungkin orang, dan menikmati proses itu semua dengan keseimbangan yang membahagiakan.


Jadikanlah diri kita sebuah pribadi yang kehadirannya dalam reality show ini menjadi berkah bagi mereka yang bertemu dan yang mengenal kita. Jadilah sebuah pribadi yang bersyukur karena telah diijinkan hidup dalam sebuah diri yang baik, yang berkualitas, dan yang membangun nilai dirinya melalui kegunaan bagi orang lain.


Kehidupan adalah sebuah permainan yang sangat serius. Dan seperti semua permainan, hidup ini punya ketentuan dan peraturan-peraturannya sendiri; yang tidak selalu jelas bagi mereka yang sedang berkutat di dalamnya, tetapi yang tertulis dan terkatakan dengan jelas bagi mereka yang berusaha mengerti.


Dalam saat-saat penuh keraguan dan ketakutan seperti saat ini, saat doa dan permintaan seolah tak terdengar, saat harapan tertiup cepat menjauh; hati ini demikian penuh dengan perasaan yang tak terjelaskan, mencari sesuatu untuk diyakini, dan mulut ini menuturkan kata-kata yang sebelumnya tak terpikirkan untuk dikatakan. Akan ada keajaiban, bagi kita bila kita percaya. Meskipun harapan kita lemah, tetapi harapan itu sulit digerus. Entah keajaiban apa yang akan kita capai bila kita percaya. Tetapi, pasti akan datang kepada kita sebuah keajaiban, bila kita percaya.


Dalam kerajaan pikiran, yang kita percaya sebagai yang nyata, bisa memang sebuah kenyataan, atau kitalah yang menjadikannya kenyataan. Kita akan dengan mudah sekali mempercayai yang kita harapkan akan terjadi. Telah sering terjadi, kita hanya mendengar yang ingin kita dengar, dan melihat yang ingin kita lihat.


Maka, bila kita percaya bahwa diri kita tidak beruntung, sebetulnya tanpa kita sadari, kita bersikap seperti kita mengharapkan putusnya keberuntungan kita sendiri. Yang kita harapkan akan menjadi keyakinan kita. Yang kita yakini akan menjadi harapan kita. Maka berhati-hatilah dengan apa yang kita harapkan.


Mengapakah kita gunakan pikiran dengan cara-cara yang bertentangan dengan kepentingan kita untuk berhasil? Ketahuilah bahwa apa pun yang menjadi perhatian kita, akan tumbuh membesar dan menguat, hingga ia mencapai kewenangan yang dapat memaksa kita untuk hanya memperhatikannya. Maka sebetulnya mudah bagi kita untuk mencapai keajaiban yang kita rindukan itu, bila kita temukan bibit-bibit kebaikan untuk kita jadikan pusat perhatian.


Pelajarilah apa yang benar, agar mudah bagi kita untuk berlaku benar. Awalilah dengan mengupas kerak pelajaran masa lalu yang terbukti menjauhkan kita dari kebaikan. Mempelajari yang benar—sebetulnya, adalah urutan perilaku bersungguh-sungguh untuk melepaskan ikatan-ikatan yang melumpuhkan. Janganlah memikirkan sesuatu yang tidak memuliakan, karena pikiran kita akan menjadi keyakinan. Kemudian keyakinan akan memilihkan kita, kata-kata dan tindakan kita; padahal kata-kata dan tindakan kitalah yang akan menjadikan masa depan kita. Pikiran adalah awal dari masa depan.


Dahulukanlah yang seharusnya kita dahulukan. Perhatikanlah awal dari semua kesulitan kita. Mereka selalu berasal dari kita tundanya tindakan yang seharusnya kita dahulukan. Lalu, perhatikanlah bagaimana kita mendahulukan yang seharusnya terakhir, atau mengadakan yang seharusnya tidak ada. Bukankah banyak penyesalan kita yang berasal dari kelemahan kita untuk melakukan yang seharusnya kita lakukan, saat ia masih mudah untuk dilakukan? Juga karena kita tidak menyegerakan melakukan sesuatu sekarang, karena kita mengira bahwa keadaan kita tidak akan memburuk?


Sayangilah diri kita, dan perbaikilah pikiran kita. Lakukanlah apa pun, selama yang kita lakukan menghindarkan kita dari keadaan yang lebih sulit. Perhatikanlah, bagi seorang yang sedang tenggelam, gerakan apa pun yang dilakukannya, selain gerakan tenggelam adalah gerakan penyelamatan. Dan bila ia kemudian selamat, dan menyebut keselamatannya sebuah keajaiban—sebetulnya dialah yang menyebabkan keajaiban itu. Tentunya secara hakikat adalah pertolongan dari Beliau Yang Maha Membantu.


Hidup ini bersikap ramah kepada kita yang bersungguh-sungguh untuk mencapai kemenangan, dan bersikap keras kepada mereka yang tidak terlibat secara sadar dalam prosesi kehidupan. Yang menyedihkan bagi para pemerhati adalah bila mereka yang dikerasi oleh kehidupan agar sadar, ternyata menerima kesulitan hidup sebagai nasib buruk, seolah-olah upaya mereka tidak akan mendatangkan perubahan. Seandainya saja mereka mau mendorong diri mereka untuk mencoba, untuk berjuang dalam perjuangan yang benar, tidak membiarkan diri mereka menua tanpa guna, dan melibatkan diri dalam pertarungan-pertarungan kecil yang tidak bernilai.


Daftar Pustaka :

  • Mario Teguh, “Becoming A Star [Personal Excellence Series]”, PT Syaamil Cipta Media, Februari 2005/Muharam 1425 H
  • Mario Teguh, “One Million 2nd Chances [Personal Excellence Series]”, Penerbit Progressio, November 2006


Tulisan ini lanjutan dari : Sudah Beriman, Mengapa Hidup Masih Miskin? (4 of 8)
Tulisan ini berlanjut ke : Sudah Beriman, Mengapa Hidup Masih Miskin? (6 of 8)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Wednesday, January 13, 2010

Sekelumit Kisah Kecekalan Syeikh Al-Albani

Perpustakaan Az-Zahiriyah dimana Syeikh Al-Albani banyak menghabiskan waktunya untuk menelaah kitab, terkadang di meja khususnya di antara pengunjung dan terkadang membaca buku di tangga-tangga perpustakaan. Dan menurut anak beliau, Abdul Latif, beliau sering lupa makan dihari itu.

Dalam sebuah kaset ceramah milik Syeikh Abu Ishaq Al-Huwainy yang berjudul “Ainal Ulama Ar-Rabbaniyun?”, beliau menceritakan tentang ujian yang pernah menimpa guru beliau Syeikh Al-Albani rahimahullah. Inilah cerita beliau:

Para ulama Rabbani dalam mengubah masyarakat itu sungguh berat, kerana mereka memiliki dua tanggungjawab besar, yakni :

  • Membersihkan khurafat yang tertanam di jiwa-jiwa manusia dan
  • Menancapkan Islam yang sahih pada jiwa mereka.

Dan tatkala para alim Rabbani memikul tanggungjawab yang berat sekali itu, merekapun juga diuji oleh berbagai tuduhan yang disebabkan dari pemelintiran ucapan mereka serta penyebaran berbagai berita dusta. Hampir-hampir tidak selamat seorangpun dari alim Rabbani dari hal seperti ini sebagaimana dicatat dalam sejarah.

Cukup sebagai contoh adalah Syeikh Nasiruddin Al-Albani, seorang ulama hadis abad ini rahimahullah taala.

Syeikh Al-Albani adalah orang yang sangat banyak sekali dinisbatkan kedustaan padanya, padahal tidak pernah beliau katakan. Kerana sebab kedustaan-kedustaan itulah beliau pernah dicekal di sejumlah negara. Maka tidaklah engkau lihat beliau memiliki suatu negeri ataupun tempat tinggal. Hidup beliau diakhir masa hidupnya sengsara sekali. Seorang alim semisal beliau terpaksa mengungsi. Kerana beliau berpendapat haramnya safar ke negeri kafir, maka beliau tidak pergi ke Amerika atau Perancis atau yang lainnya. Dan kalau tidak berpendapat demikian, mungkin beliau akan mendapatkan kebebasan besar di negara-negara tersebut.

Selama 6 bulan terkatung-katung nasibnya di perbatasan UEA! Beliau dilarang masuk ke sana! Juga dilarang memasuki Kuwait! Dan juga memasuki Saudi! Dilarang memasuki Suriyah. Lantas bagaimana beliau akan tinggal?

Dan tidaklah beliau bisa tinggal di Jordan saat itu kecuali dengan tazkiyah (rekomendasi) khusus dari salah seorang murid beliau, yakni Syeikh Muhammad bin Ibrahim Syaqrah, wakil kementrian waqaf sekaligus Imam Masjid Dar Ash Shofwah.

Syeikh Ibrahim Syaqrah ini kemudian menemui Raja Husain secara peribadi memintanya membolehkan Syeikh Nasiruddin Al-Albani tinggal di Jordan. Itupun dengan kesepakatan agar beliau tidak ditemui seorangpun saat itu. Dan juga mereka kemudian memaksa menulis di pintu rumah (vila) Syeikh Al-Albani dengan tulisan “Dilarang didatangi lebih dari dua orang!”. Jika ingin berjumpa harus melalui perjanjian melalui telefon.

Dan dihari-hari pertama mereka sangat mempersempit sekali kepada Syaikh Albani,akan tetapi dihari-hari belakangan mereka melupakannya hingga tidak ketat lagi dengan aturan-aturan ini.

Tatkala aku menemui Syeikh Al-Albani di Amman, beliau mengundang sejumlah relasi untuk makan dan kebetulan aku disana. Kami saat itu berjumlah 25 orang dan kukatakan pada syeikh: "Wahai Syaikh, bukankah ada semacam banner peringatan bahawa dilarang masuk lebih dari dua orang?” Syeikh Al-Albani berkata dengan cepat: "Mereka masuk dua orang dua orang saja!"

Beliau yang alim ini tidak mendapatkan baginya tempat yang nyaman. Sebelumnya mereka pun melarang durus beliau di Masjib Umar di Zurqa, hingga beliau tidak memiliki tempat untuk memberi pelajaran kepada talabul ilmi kecuali dirumah salah seorang mereka setelah solat isyak.

Saat diselenggarakan Muktamar Assunnah dan Sirah Nabawiyah di Mesir, mereka tidak mengundang Syeikh Al-Albani, padahal beliaulah orang paling besar saat itu jasanya kepada kaum muslimin di abad ini bagi sunnah dan sirah nabawiyah. Dan mereka tidak mengundang Syeikh Al-Albani misalnya dengan mengatakan: "Kemarilah akan kami muliakan engkau”, tidak ada salah satu anggota pertemuan itu yang berbicara demikian.

Adalah semisal mereka para ulama Rabbani ini, lihatlah muamalah kepada mereka! Bagaimana mungkin kaum muslimin bisa mendapatkan manfaat dengan ilmu mereka sedang mereka diusir diberbagai negeri!?. Bahkan yang lebih aneh lagi, sejumlah kitab-kitab ulama diberbagai perpustakaan dilarang, buku Tahzir As-Sajid, buku Hurmatut Tashwir karya Syeikh Al-Albani dan Syeikh bin Baz dan sejumlah ulama, Tahqiq Syarh At-Thahawiyah, mengapa wahai saudara-saudara kami? Mereka mengatakan bahawa ini kitab terlarang, Al-Azhar telah memutuskan bahawa kitab-kitab tersebut terlarang! Bagaimana bisa terlarang? Apakah kerana karya dan peneliian dari Al-Albani? Beginikah bermuamalah dengan ulama-ulama Rabbani?

Friday, January 8, 2010

Sudah Beriman, Mengapa Hidup Masih Miskin? (4 of 8)

Seberapa besar—kuat atau lemah—iman kita, maka sebatas itu pula kebahagiaan, ketentraman, kedamaian dan ketenangan kita.


Siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS an-Nahl [16] : 97)


Maksud ”kehidupan yang baik” (hayâtan thayyibah) dalam ayat ini adalah ketenangan jiwa dikarenakan janji baik Rabb mereka, keteguhan hati dalam mencintai Dzat yang menciptakan mereka, kesucian nurani dari unsur-unsur penyimpangan iman, ketenangan dalam menghadapi setiap kenyataan hidup, kerelaan hati dalam menerima dan menjalani ketentuan Allah, dan keikhlasan dalam menerima takdir.


Bersamaan dengan usaha keras disertai doa, orang beriman yang masih miskin janganlah bersedih hati. Abdul Aziz bin Rawwad rahimahullâh berkata, “Kemuliaan Allah bukan dimiliki oleh orang yang mengenakan kain sutra dan memakan roti gandum, atau dimiliki oleh orang yang mengenakan kain wol dan memakan gandum. Kemuliaan Allah dimiliki oleh orang yang ridha atas apa yang ditetapkan (takdir) Allah kepada dirinya.”


Dalam syairnya, ‘Aidh al-Qarni menasihatkan agar kita tidak banyak mengeluh dan berduka lara.


Betapa banyak kau mengeluh dan berkata tak punya apa-apa
Padahal bumi, langit dan bintang adalah milikmu
Ladang, bunga segar, bunga yang semerbak
Burung bulbul yang bernyanyi riang
Air di sekitarmu memancar berdecak

Dunia ceria kepadamu lalu mengapa kau cemberut
Dan dia tersenyum kenapa kau tidak tersenyum
Lihatlah masih ada gambar-gambar
Yang mengintip di balik embun
Seakan bicara karena indahnya


Rahmat Allah di akhirat jauh lebih banyak daripada di dunia. Nabi Muhammad saw. bersabda :


إِنَّ ِللهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ أَنْزَلَ مِنْهَا رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ وَالْبَهَائِمِ وَالْهَوَامِّ فَبِهَا يَتَعَاطَفُوْنَ وَبِهَا يَتَرَاحَمُوْنَ وَبِهَا تَعْطِفُ الْوَحْشُ عَلَى وَلَدِهَا وَأَخَّرَ اللهُ تِسْعًا وَتِسْعِيْنَ رَحْمَةً يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Sesungguhnya Allah mempunyai seratus rahmat. Dia menurunkan satu rahmat kepada jin, manusia, binatang dan lainnya. Dengan satu rahmat itu mereka saling menyayangi, saling mengasihi. Dengannya binatang liar mengasihi anaknya. Allah mengakhirkan kesembilan puluh sembilan rahmat-Nya. Dengannya Dia merahmati hamba-Nya pada hari Kiamat.
(HR Bukhari dan Muslim)


Ibnu Hazm pun menghibur kita agar tidak larut dalam kesedihan karena kemiskinan. Beliau bersenandung tentang kemiskinan dalam bait puisinya yang menyejukkan jiwa dan melipur lara :


Kujadikan kemiskinan sebagai pelindung diri
Tak pernah kupakai pakaian kehinaan tuk hati ini
Yang kuperoleh cukuplah sebagai pelindung diri
Dari kepongahan dan kebejatan yang menghinakan diri
Hanya agama dan harga diri yang kupedulikan
Selainnya, tak sedikit pun kuhiraukan


Mungkin kita akan berkata, “Bagaimana pun caranya, yang penting kaya dulu. Kalau sudah kaya, kan bisa sedekah, membantu fakir miskin, panti asuhan, menyumbang pembangunan masjid, sekolah, pondok pesantren dan bisa naik haji berkali-kali.”


Janganlah kita mempunyai prinsip demikian, karena kita akan cenderung menghalalkan segala cara. Kalaupun kita kaya karenanya, itu bukanlah nikmat, tapi istidrâj (dalam bahasa Jawa disebut penglulu), diberi tapi untuk dihancurkan.


Pesan Ibnu Athaillah, “Takutlah kamu dari wujud kebaikan Allah yang diberikan kepadamu, padahal kamu masih tetap bermaksiat kepada-Nya, yang kelak bisa menjadi istidrâj (membiarkan kamu bersenang-senang dalam kenikmatan itu). Sepeti firman Allah yang artinya, ‘nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui’ (QS al-A‘râf [7] : 182).”


Perlu kita ingat lagi bahwa tidak mungkin Allah menerima sedekah atau amal ibadah yang didapat dari barang haram. Bagaimana mungkin kita berwudhu menggunakan air comberan? Rasulullah bersabda kepada Ali bin Abi Thalib,


يَا عَلِيُّ لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ بِلاَ وُضُوْءٍ وَلاَ صَـدَقَةً مِنَ الْحَرَامِ

“Wahai Ali, Allah tidak menerima shalat tanpa wudhu dan sedekah dari barang haram.”


يَا عَلِيُّ مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَلَمْ يُحِلَّ حَلاَلَهُ وَلَمْ يُحَرِّمْ حَرَامَهُ كَانَ مِنَ الَّذِيْنَ نَبَذُوْا كِتَابَ اللهِ وَرۤاءَ ظُهُوْرِهِـمْ

“Wahai Ali, siapa membaca Al-Qur’an tapi dia tidak menghalalkan apa yang dihalalkan Al-Qur’an, dan tidak mengharamkan apa diharamkan Al-Qur’an, maka dia tergolong orang-orang yang membuang Al-Qur’an ke belakang punggung mereka.”


Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abbas dari Anas bin Malik, disebutkan bahwa Nabi saw. bersabda :


طُوْبَى لِعَبْدٍ أَنْفَقَ مِنْ مَالٍ إِكْتَسَـبَهُ مِنْ غَيْرِ مَعْصِيَةٍ

Berbahagialah hamba yang berinfak dari harta yang diperolehnya bukan dari maksiat. (HR Ibnu ‘Addi dan al-Bazzar)


Rasululullah juga pernah bersabda tentang tubuh yang diisi dengan sesuatu yang haram :


كُلُّ جَسَدٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ – أَيْ مِنْ حَرَامٍ – فَاالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

Setiap badan yang tumbuh dari sesuatu yang haram, maka neraka adalah lebih utama baginya. (HR Tirmidzi)


Ibnu Hazm mengingatkan kita dalam bait puisinya yang menyentuh jiwa dan membakar asa :


Bersyukurlah pada Allah atas kebesaran-Nya
Ia Pemberi rejeki seluruh penghuni semesta
Baik orang Badui maupun Arab tak ada bedanya
Ia hamparkan bumi, langit, udara, laut, hujan juga
Demi kebaikan kita, janganlah kaubangkangi Ia
Sungguh, semua orang kan tanggung amalannya


Daftar Pustaka :

  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Lâ Tahzan – Jangan Bersedih”, Qisthi Press, Cetakan Ketiga puluh enam : Januari 2007
  • Asrori al-Maghilaghi, Kyai, “Al-Bayân al-Mushaffâ fî Washiyyatil Mushthafâ”
  • Djamal’uddin Ahmad Al Buny, “Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)”, Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000
  • Ibnu Hazm al-Andalusi, “Di Bawah Naungan Cinta (Thawqul Hamâmah) – Bagaimana Membangun Puja Puji Cinta Untuk Mengukuhkan Jiwa”, Penerbit Republika, Cetakan V : Maret 2007
  • Muhammad bin Ibrahim Ibnu ‘Ibad, asy-Syaikh, “Syarah al-Hikam”
  • M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007
  • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006

Tulisan ini lanjutan dari : Sudah Beriman, Mengapa Hidup Masih Miskin? (3 of 8)
Tulisan ini berlanjut ke : Sudah Beriman, Mengapa Hidup Masih Miskin? (5 of 8)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Thursday, January 7, 2010

Syeikh Al-Albani Di Usia 84 tahun

Dalam kitab Sahih Mawarid Az-Zam’an ila Zawaid Ibnu Hibban (2087) dalam pembahasan hadis Abu Hurairah radiallahu ‘anhu dimana disebutkan bahawa Rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam berkata:
أعمار أمتي ما بين الستين إلى السبيعين ، وأقلهم من يجوز ذلك

“Umur umatku antara 60 sampai 70 tahun, kecuali sedikit dari mereka yang usianya lebih dari itu”.

Ibnu Arafah mengulas hadis ini dengan berkata: "Saya termasuk yang sedikit tersebut". Syeikh Al-Albani turut mengulas atas ucapan ini dengan menuliskan dalam tahqiqnya, sebagai berikut:

Dan saya pun termasuk yang sedikit tersebut. Saat ini usiaku sudah mencapai 84 tahun. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Taala menjadikanku termasuk golongan orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.

Bersamaan dengan itu pula, sesungguhnya aku pun terkadang mengharapkan kematian, terlebih jika melihat kaum muslimin banyak menyimpang dari agamanya dan tertimpa kehinaan sehingga menjadi umat yang direndahkan. Akan tetapi terlarang berharap demikian,dan hadist Anas masih aku ingat sejak aku masih muda. Maka tidaklah bagiku kecuali mengatakan apa yang diperintahkan Nabi padaku salallahu ‘alaihi wasalam :

اللهم أحيني ما كانت الحياة خيرا لي وتوفني إذا كانت الوفاة خيرا لي

“Ya Allah hidupkan aku selama kehidupanku lebih baik bagiku dan wafatkanlah aku jikalau kematian itu baik bagiku.”

Serta berdoa dengan apa yang diajarkan kepadaku oleh Nabi ‘alaihi solatu wasalam:

اللهم متعنا بأسماعنا وأبصارنا وقوتنا ما أحييتنا ، واجعلها الوارث منا

“Ya Allah jadikan pendengaran dan penglihatanku senantiasa sihat dan kuatkanlah seluruh anggota badanku, kemudian jadikanlah itu semua tetap seperti itu hingga tibanya kematian”.

Dan Allah Subhanahu wa Taala telah mengabulkan doa ini padaku dan sungguh aku dapat menikmati itu semua (isi doa diatas). Inilah saya yang sampai usia sekarang ini masih giat membahas dan meneliti serta menulis dengan giat, saya pun solat sunnah dengan berdiri, saya juga membawa kenderaan sendiri dalam perjalanan yang jauh, juga membawa dengan “ngebut” sampai-sampai sebahagian pelajar sering menyarankanku untuk tidak berbuat demikian. Menurut saya dalam masalah membawa kenderaan dengan laju ini perlu dirinci hukumnya sebagaimana juga telah diketahui oleh mereka. Saya ceritakan demikian ini sebagai wujud dari firman Allah:

“Dan terhadap nikmat Rabbmu hendaklah kamu menyebut-nyebutnya” (Ad-Dhuha ayat 11)

Dengan senantiasa berharap agar Allah Subhanahu wa Taala menambahkan kurnianya kepadaku dan menjadikan nikmat ini tidak dicabut hingga kematian tiba, serta mewafatkanku sebagai muslim diatas sunnah yang aku telah bernazar untuk itu kehidupanku adalah dakwah dan menulis. Juga semoga Allah mengumpulkanku kelak dengan para syuhada dan orang-orang soleh sebagai sebaik-baik teman. Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi menjawab doa.

Tuesday, January 5, 2010

Kemuliaan Jenazah Para Ulama'

Jenazah Imam Ahmad bin Hanbal

Pada hari wafatnya Imam Ahmad bin Hanbal, tak sedikit mereka yang turut menghantar jenazah beliau sampai beratusan ribu orang. Ada yang mengatakan 700 ribu orang, ada pula yang mengatakan 800 ribu orang, bahkan ada yang mengatakan sampai satu juta lebih orang yang menghadirinya.

Semuanya menunjukkan bahawa sangat banyaknya mereka yang hadir pada saat itu demi menujukkan penghormatan dan kecintaan mereka kepada beliau. Beliau pernah berkata ketika masih sihat, "Katakan kepada ahlu bid'ah bahawa perbezaan antara kami dan kalian adalah (tampak pada) hari kematian kami."

Jenazah Imam Bukhari

Ghalib bin Jibril berkata: “Kami telah menunaikan pesanannya (Imam Bukhari), sudah mengafaninya, kemudian menyolatkannya, barulah kami memasukkannya ke dalam liang lahad. Sejurus itu terdapat bau yang amat wangi seperti ‘Misk’ terbesar dari tanah perkuburannya dan ia berterusan beberapa hari.”

Jenazah Tok Kenali

Di tengah-tengah suasana yang sepi, berduyun-duyun manusia yang berwajah sebam, hampir semuanya berkopiah, berserban dan bersongkok telah memasuki saf untuk mensolatkan jenazah Tok Kenali. Mereka kelihatan penuh khusyuk dan insaf.

Bersaf-saf orang mengangkat takbir, susul-menyusul. Alim ulama, guru-guru dan murid serta orang kampong tua-muda datang bersolat tanpa meminta upah dan habuan, demi untuk kebahagiaan roh Tok Kenali buat selama-lamanya. Orang-orang besar dan berpangkat dari ibukota, tidak juga ketinggalan.

Hari wafatnya dilawati oleh tidak kurang daripada 2,500 orang dan jenazahnya disolatkan lebih 1,000 orang yang ikhlas kepada Allah.

Tok Kenali wafat pada 19 November 1933 M

Jenazah Badiuzzaman Said Nursi

Pertama kali berita duka wafatnya Badiuzzaman Said Nursi, tersebar di Urfah dan tidak lama kemudian masyarakat kota ini tampak berhimpun di sekitar hotel. Kemudian berita ini tersebar di bandar-bandar Turki yang lain. Masyarakat luas dari luar Urfah berdatangan sehingga kota ini seketika menjadi lautan manusia yang ingin memberikan penghormatan terakhir kepada pahlawannya.

Jenazah Said Nursi dipikul para murid dan orang-orang yang mencintainya dengan diiringkan oleh puluhan ribu penghantar jenazah dan dengan disertai hujan yang turun rintik-rintik untuk dikebumikan di pemakaman Ulu Jami.

Said Nursi wafat pada 23 Mac 1960.

Jenazah Syeikh Mutawalli Sya'rawi

Umat Islam ketika itu terkejut dan tersentak apabila seorang Imam yang memperjuangkan Islam sehingga digelar sebagai "Lampu Kebenaran" telah wafat ketika berumur 87 tahun. Iaitu Syeikh Mutawalli Sya'rawi.

Jenazah beliau telah dikebumikan di kampungnya iaitu Doqdus berdasarkan wasiat beliau sendiri. Jenazahnya telah dibawa oleh anak-anak muridnya, penduduk kampung serta semua pencinta beliau. Hampir sejuta orang telah menghadiri pengkebumian beliau.

Syeikh Sya'rawi wafat pada 17 Jun 1998.

Jenazah Syeikh Abdul Aziz bin Baz

Pada hari wafatnya Syeikh Abdul Aziz bin Baz, seramai 50,000 orang telah menghadiri upacara pengkebumian beliau. Semoga Allah SWT merahmati beliau. Amin.

Syeikh Abdul Aziz wafat pada 13 Mei 1999.

Jenazah Syeikh Al-Albani

Sesaat setelah wafatnya Syeikh Al-Albani, jenazah beliau dipersiapkan untuk segera dimakamkan sesuai dengan amanatnya dalam surat wasiat yang telah ditulisnya sejak sepuluh tahun sebelum wafatnya.

Selepas solat isyak pada malam itu juga, jenazah beliau disolatkan oleh kurang lima ribu orang, diimami oleh Syeikh Muhammad Ibrahim Syuqrah kemudian dengan berjalan kaki, mereka membawa jenazahnya untuk dimakamkan di pemakaman terdekat.

Syeikh Al-Albani wafat pada 2 Oktober 1999.

Jenazah Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pada hari wafatnya Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, seramai 500,000 orang telah menghadiri upacara pengkebumian beliau. Semoga Allah SWT merahmati beliau. Amin.

Syeikh Muhammad wafat pada 10 Januari 2001.

Jenazah Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki

Pada hari wafatnya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, hampir 300,000 manusia membanjiri upacara pengebumiannya. Semua orang menangis dan sangat bersedih. Ia merupakan satu situasi yang tidak dapat dilupakan. Allahu Akbar.

Terdapat sekurang-kurangnya 500 orang tentera diperintah oleh kerajaan Arab Saudi di perkuburan Ma’ala untuk mengawal ribuan orang yang menangisinya. Kerabat diraja juga turut hadir. Para manusia menempikkan Kalimah dengan kuat sepanjang uapcara pengebumian beliau, memenuhi Makkah dari Masjidil Haram sehingga ke tanah perkuburan.

Sayyid Muhammad wafat pada 29 Oktober 2004.

M.A.Uswah,
5 Januari 2010,
Sandakan.

Dikemaskini semula dari:
Lembaran Hidup Ulama' karyaku dan tambahan lainnya.





Sunday, January 3, 2010

Candanya Para Ulama' (Syeikh Al-Albani, Syeikh Ibnu Baz & Syeikh Ibnu Utsaimin)

1. Ada seorang pemuda penuntut ilmu pernah naik kenderaan bersama Syeikh Al-Abani rahimahullah. Syeikh Al-Abani membawa kenderaannya dengan kelajuan yang tinggi. Melihatnya, maka pemuda itupun menegur: "Wahai syeikh, ini namanya ‘ngebut’ dan hukumnya tidak boleh. “Syeikh Ibnu Baz mengatakan bahawa hal ini termasuk menjerumuskan diri dalam kebinasaan. Mendengarnya, Syeikh Al-Albani rahimahullah tertawa lalu berkata: "Ini adalah fatwa seseorang yang tidak merasakan nikmatnya membawa kenderaan!.” Pemuda itu berkata: “Syeikh, akan saya laporkan hal ini kepada Syeikh Abdul Aziz bin Baz.” Jawab Syeikh Al-Abani: ”Silakan, laporkan saja.”

Pemuda itu melanjutkan ceritanya: “Suatu saat, saya bertemu dengan Syeikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah di Makkah maka saya laporkan dialog saya dengan Syeikh Al-Abani rahimahullah tersebut kepada beliau. Mendengarnya, beliau juga tertawa seraya berkata: ‘Katakan padanya: "Ini adalah fatwa seseorang yang belum merasakan enaknya terkena denda!” (Al-Imam Ibnu Baz, Abdul Aziz as-Shadan hlm.73)

2. Diceritakan bahawa suatu ketika Raja Khalid rahimahullah mengunjungi rumah Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, sebagaimana kebiasaan para raja sebagai sikap menghormati dan memuliakan para ulama. Dan ketika sang Raja melihat rumah syeikh yang sangat sederhana maka raja menawarkan kepada syeikh untuk
dibangunkan sebuah rumah untuk beliau, syeikh berterima kasih dan berkata: "Saya sedang membangun rumah di daerah As-Salihiyah (wilayah Unaizah, Qasim), bagaimanapun masjidnya dan panti sosialnya membutuhkan
bantuan (dana)”

Maka setelah sang Raja pergi, beberapa orang yang ikut dalam pertemuan itu berkata: “Wahai syeikh, kami tidak mengetahui kalau anda sedang membangun rumah di As-Salihiyah?”

Maka syeikh menjawab: “Bukankah pekuburan ada di As-Salihiyah?”

(Ad-Dur Ath-Thamin Fi Tarjamti Faqihil Ummah Al-Allamah Ibn Utsaimin – p.218)

3. Ada salah seorang suami dari cucu Syeikh Ibnu Baz menemui beliau dan berkata, “Wahai Syeikh, kami ingin agar engkau mengunjungi dan makan di rumah kami”. Jawapan beliau, “Tidak masalah, jika engkau menikah untuk kedua kalinya maka kami akan datang ke acara walimah insya Allah”.

Setelah pulang, orang ini bercerita kepada isterinya tentang apa yang dikatakan oleh datuknya. Kontan saja cucu perempuan dari Syeikh Ibnu Baz buru-buru menelefon datuknya. “Wahai Syeikh, apa maksudnya?”. Ibnu Baz berkata kepada cucunya, “Kami hanya guyon dengan dia. Kami tidak mengharuskannya untuk nikah lagi. Kami akan berkunjung ke rumahmu meski tidak ada acara pernikahan”. (www.ustadzaris.com)

4. Abdullah bin Ali Al-Matawwu’ menceritakan bahawa dia menemani Syeikh Ibnu Utsaimin (dari Unaizah) menuju Al-Bada-i yang jaraknya 15 km dari Unaizah untuk memenuhi undangan makan pagi.

Setelah makan pagi, ketika mereka dalam perjalanan pulang mereka melihat seorang dengan janggut berwarna merah (mungkin dicelup dengan hinna) dengan wajah tenang melambaikan tangan (mencari tumpangan).

Syeikh berkata: “Perlahanlah! Kita akan mengajaknya bersama kita”

Maka syeikh berkata kepada orang itu: “Engkau mahu kemana?”

Orang itu menjawab: “Ajak aku bersama kalian ke Unaizah”

Syeikh berkata: “Dengan dua syarat, pertama engkau tidak boleh merokok, kedua engkau harus mengingat Allah”

Orang itu menjawab: “Masalah rokok, aku tidak merokok, walaupun tadi aku menumpang seseorang yang merokok dan (kerana itu) aku minta diturunkan disini dan tentang mengingat Allah maka tidak ada muslim kecuali diamengingat Allah”

Maka orang itu naik ke kenderaan.

(Terlihat jelas sepanjang perjalanan bahwa) orang itu tidak menyedari kalau dia sedang bersama Syeikh Ibnu Utsaimin. Ketika tiba di Unaizah orang itu berkata: "Tunjukkan padaku rumah Syeikh Ibnu Utsaimin, kerana aku punya pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada beliau.”

Maka Syeikh berkata:”Kenapa tidak engkau tanyakan pada beliau ketika engkau bertemu dengan beliau di Al-Bada-i?”

Orang itu berkata: "Aku tidak bertemu dengan beliau”

Syeikh berkata: "Aku melihat sendiri engkau berbicara dengan beliau dan memberi salam kepadanya”

Orang itu berkata: "Engkau mempermainkan orang yang lebih tua dari orang tuamu!”

Syeikh tersenyum dan berkata kepadanya:”Solat Asarlah di masjid ini (Jami’ Unaizah) nanti engkau akan melihat beliau”

Orang itu pergi tanpa mengetahui bahawa tadi dia sedang berbicara dengan Syeikh Ibnu Utsaimin sendiri.

Setelah dia selesai solat Ashr, orang itu melihat syeikh didepan selesai mengimami solat jamaah, maka dia bertanya (pada orang lain) tentang beliau dan diberitahukan kepadanya bahawa syeikh itu adalah Syeikh Ibnu Utsaimin. Maka orang itu mendekati syeikh dan meminta maaf kerana tidak mengenali beliau tadi (diperjalanan), kemudian dia menyampaikan pertanyaannya. Syeikh pun menjawab pertanyannya dan orang itu mulai menangis memohon kepada syeikh.

(Al-Jami’ li Hayaat Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin – p.38)

5. Jika ada seorang yang berkunjung ke rumah Syeikh Ibnu Baz rahimahullah, maka beliau pasti menawari orang tersebut untuk turut makan malam bersama beliau. Jika orang tersebut beralasan, “Wahai syeikh, saya tidak bisa” maka dengan nama berkelakar Ibnu Baz berkata, “Engkau takut dengan isterimu ya?! Marilah makan malam bersama kami”. (www.ustadzaris.com)

6. Dalam pelajaran fiqh, ketika membahas tentang cacat di dalam pernikahan, seorang murid bertanya kepada Syeikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah : “Wahai syeikh, bagaimana seandainya ada seorang lelaki menikah, ternyata setelah itu diketahui isterinya tidak punya gigi, bolehkah dia mencerainya?”

Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab : “Itu isteri yang sangat istimewa! Kerana dia tidak muungkin dapat menggigitmu!” (Majalah al-Furqon)

7. Ketika Syeikh Ibnu Baz rahimahullah hendak rakaman untuk acara Nurun ‘ala Darb (acara tanya jawab di radio al-Quran al-Karim di Saudi), biasanya beliau melepaskan kain serbannya dan dengan nada canda beliau berkata, “Siapa yang mahu memikul amanah?”. Jika ada salah seorang yang ada di tempat tersebut mengatakan, “Saya” maka beliau berkata, “Silakan ambil”. (www.ustadzaris.com)

8. Seseorang bertanya kepada Syeikh Utsaimin rahimahullah: “Ada sebuah hadis mengatakan : ‘Tidak ada pertaruhan dalam perlumbaan kecuali lumba panah atau unta atau kuda’. Apa pendapat anda mengenai orang yang menyelenggarakan lumba untuk ayam dan merpati?”

Beliau menjawab: “Wallahi- Ya akhi- Rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam berkata “Tidak ada pertaruhan dalam perlumbaan kecuali lumba panah atau onta atau kuda”.”As-Sabaq” disini bermakna “Al-’audh”(mengganti). Kerana hal-hal ini membantu dalam kondisi peperangan. Kerana ada faedah (manfaat) darinya. Pembuat syariat membolehkan berlumba pada hal tersebut. Apabila ayammu bisa membantumu dalam peperangan bisa kau tunggani, meninju (melompat) dan menggali... maka tidak mengapa, jika tidak maka jangan…”
(Liqo Bab Al-Maftuh pertanyaan ketiga, kaset No.200)

9. Seseorang bertanya kepada Syeikh Utsaimin rahimahullah: “Apa hukum menggantungkan doa-doa di kenderaan seperti doa menaiki kendaraan atau safar dan lain sebagainya. Apa jawapan bagi yang berkata bahawa hal tersebut termasuk tamimah?”

Beliau menjawab: “Termasuk tamimah (jimat)? Saya katakan terhadap orang yang berkata bahawa hal ini tergolong tamimah: Sungguh telah benar, apabila kenderaannya sakit! Digantungkan doa-doa ini di mobilnya bukan di penumpangnya dan diletakkan di mobilnya juga baik kerana bisa mengingatkan penumpang dengan doa menaiki kendaraan. Atau dengan doa safar. Semua yang bisa membantu kebaikan maka hal itu baik.Saya tidak memandang menggantungknnya tidak boleh. Ini bukan termasuk tamimah kecuali sebagaimana saya katakan tadi : Jika mobilnya sedang sakit, kemudian digantungkannya doa-doa ini kemudian sembuh dengan izin Allah!! Oleh kerananya perkara ini baik-baik saja!

(Liqo As-Syahri, kaset No.9 Side B)

10. Diceritakan oleh Ihsan bin Muhammad Al-Utaybi: Setelah selesai solat di Masjidil Haram al-Makki, Syeikh Ibnu Utsaimin meninggalkan al-Haram untuk pergi ke suatu tempat dengan mobil, maka beliau menghentikan sebuah teksi dan menaikinya. Dalam perjalanan, sang pemandu ingin berkenalan dengan penumpangnya, maka dia menanyakan:”(Nama) anda siapa wahai syeikh?”

Syeikh menjawab:”Muhammad bin Utsaimin”

Dengan terkejut sang pemandu bertanya:”Syeikh Ibnu Utsaimin?” kerana mengira syeikh berbohong kepadanya, sebab dia tidak menyangka seorang seperti syeikh Ibnu Utsaimin akan menjadi penumpang teksinya.

Maka syeikh menjawab:”Ya, Asy-Syeikh”

Pemandu teksi memusing kepalanya untuk melihat wajah Asy-Syeikh al-Utsaimin.

Syeikh pun bertanya: "Siapakah (nama) kamu wahai saudaraku?”

Pemandu itu menjawab: "Saya Asy-Syeikh Abdul Aziz bin Baz!”

Syeikh pun tertawa dan menanyakan: "Engkau Syeikh Abdul Aziz bin Baz?!”

Pemandu teksi itu menjawab: "Ya, seperti anda Syeikh Ibnu Utsaimin”

Lalu syeikh berkata: "Tapi kan Syeikh Abdul`Aziz bin Baz buta dan beliau
tidak membawa mobil”

Seketika itu sang pemandu teksi mulai menyedari bahawa penumpang yang duduk disebelahnya benar-benar Syeikh Ibnu Utsaimin. Dan sungguh kacau apa yang dia hadapi sekarang (salah tingkah).

(Safahat Musyiqah min Hayaatil Imam Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin – p.79
Ref:Al-Madinah ((Ar-Risalah)), no: 13788)

11. Diceritakan oleh Abu Khalid Abdul Karim Al-Miqrin: Ketika di studio sedang melakukan rakaman acara “Pertanyaan melalui Telefon”, seorang saudara bernama Sa’d Khamis selalu berkata kepada Syeikh Ibnu Utsaimin setiap kali selesai sesi rakaman: "Jazakallahu khairan wahai syeikh, (dan semoga) Allah mengasihi kedua orang tua anda”

(Pada kesempatan kali ini) Syeikh berkata: "Amin ya Sa’d dan untukku?”

Maka Sa’d barkata (lagi): "Semoga Allah mengasihi kedua orang tuamu”

Dan syeikh menjawab (lagi): "Amin dan untukku?”

Kemudian Sa’d Khamis menyedari apa yang dimaksud (oleh perkataan syeikh), maka dia berkata:”Semoga Allah mengasihi anda dan semoga Allah mengasihi kedua orang tua anda dan semoga Allah membalas kebaikan anda dengan sebaik-baik balasan”

Maka syeikh pun tersenyum lalu tertawa dan kita semuapun tertawa.

(Arba'ah 'asyar'aam ma'a Samahatil-Allamah Asy-Syeikh Ibnu Utsaimin – p.63)

Diterjemahkan dari bahasa Indonesia:
http://alqiyamah.wordpress.com/2009/12/18/candanya-para-ulama-syaikh-al-albani-syaikh-ibn-baz-syaikh-ibn-utsaimin-rahimahumullah

M.A.Uswah,
3 Januari 2010,
Sandakan.

Friday, January 1, 2010

Sudah Beriman, Mengapa Hidup Masih Miskin? (3 of 8)

Dalam Asmaul Husna, Allah adalah Al-Muqît, Yang Maha Pemelihara dan Maha Kuasa untuk memberi rejeki yang mencukupi seluruh makhluk-Nya. Pada makna sifat Al-Muqît terdapat penekanan dalam sisi jaminan rejeki, banyak atau sedikit. Allah juga Ar-Razzâq (Maha Pemberi Rejeki), yang mengandung maksud bahwa Allah berulang-ulang dan banyak sekali memberi rejeki kepada semua makhluk-Nya.

Allah adalah Ar-Ra’ûf (Yang Maha Pelimpah Kasih). Kata ra’ûf terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf ra’—hamzah—fa’, yang maknanya berkisar pada kelemahlembutan dan kasih sayang. Kata ini, menurut pakar bahasa az-Zajjaj sama dengan rahmat, hanya menurutnya, apabila rahmat sedemikian besar, maka ia dinamai ra’fat, dan pelakunya disebut Ra’ûf.

Mufassir al-Biqa‘i ketika menafsirkan ayat “Sesungguhnya Allah Maha Pengasih (Ra’ûf) lagi Maha Penyayang (Rahîm) kepada manusia” QS al-Baqarah [2] : 143, menjelaskan bahwa ra’fat adalah rahmat yang dianugerahkan kepada yang menghubungkan diri dengan Allah melalui amal shaleh. Menurut pendapat al-Harrali, ra’fat adalah kasih sayang pengasih kepada siapa yang memiliki hubungan dengannya.

Ra’fat menggambarkan sekaligus menekankan melimpah ruahnya anugerah, karena yang ditekankan pada sifat Ar-Ra’ûf adalah Pelaku yang amat kasih, sehingga melimpah ruah kasihnya. Adapun yang ditekankan pada Ar-Rahîm adalah penerima dari besarnya kebutuhan.

Terjalinnya hubungan terhadap yang dikasihi dalam penggunaan kata ra’fat, membedakan kata ini dengan rahmat, karena rahmat digunakan untuk menggambarkan tercurahnya kasih, baik terhadap siapa yang memiliki hubungan dengan pengasih maupun tidak.

Ra’fat selalu melimpah ruah, bahkan melebihi kebutuhan, sedangkan rahmat sesuai dengan kebutuhan. Al-Qurthubi mengemukakan bahwa ra’fat digunakan untuk menggambarkan anugerah yang sepenuhnya menyenangkan, sedangkan rahmat boleh jadi pada awalnya menyakitkan, namun beberapa waktu kemudian akan menyenangkan.

Sambil berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan dalam hidup, janganlah kita melupakan sabda Rasulullah saw. :

اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْـفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَلاَّ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

Lihatlah orang yang lebih rendah (kenikmatannya) darimu dan janganlah melihat kepada yang lebih banyak (kenikmatannya) darimu agar kamu tidak mencela nikmat yang Allah anugerahkan kepadamu.
(HR Muslim dan Tirmidzi)

Ibnu Athaillah menasihatkan, “Terkadang Allah memberimu, tapi sebenarnya menahan anugerah untukmu. Adakalanya Allah mencegah pemberian untukmu, meskipun sebenarnya Allah telah memberi anugerah untukmu.”

Kadang-kadang Allah memberi kekayaan kepada manusia beserta kesenangannya, akan tetapi Allah tidak memberi taufik dan hidayah-Nya. Sebaliknya, terkadang Allah tidak memberi anugerah kekayaan dunia, akan tetapi menganugerahkan rahmat dan hidayah-Nya. Allah menahan rejeki manusia, adakalanya untuk memberi kesempatan baginya mencari taat, dan menghindarkannya dari maksiat; atau memberinya kekayaan, tapi tidak memberinya ketaatan dan keshalehan.

“Allah memberi kamu kelapangan agar kamu tidak selalu dalam kesempitan. Allah memberi kesempitan kepadamu agar kamu tidak hanyut di waktu lapang. Allah melepaskan kamu dari kedua-duanya agar kamu tidak menggantungkan diri kecuali kepada-Nya semata,” pesan Ibnu Athaillah berikutnya.

Di samping terus bekerja keras, bila orang yang beriman masih tetap miskin, maka itu adalah ujian dari Allah. Dr. Raghib as-Sirjani dalam bukunya “Misteri Shalat Subuh (Kayfa Nuhâfizhu ‘alâ Shalâtil Fajri)” berpesan,

“Ujian merupakan sunnah Ilahiah yang berlaku sejak zaman dahulu. Allah menjadikan ujian agar menjadi pembeda antara orang munafik dan orang mukmin. Allah menjadikan ujian agar menjadi standar bagi semua manusia tanpa kecuali, semenjak diciptakan Nabi Adam as. hingga hari Kiamat kelak.

Ujian memiliki ciri-ciri khusus.

Pertama, ujian haruslah sulit. Kalau ujian tidak sulit atau bahkan sangat mudah, maka semuanya akan lulus, baik mukmin maupun munafik. Bila ujian seperti ini, maka pada akhirnya tidak bisa dibedakan antara mukmin dan munafik.

Kedua, ujian tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil. Apabila ujian tersebut mustahil dilakukan, maka kedua-duanya akan gagal, baik mukmin maupun munafik.

Ketiga, ujian ini harus seimbang, artinya sulit bagi munafik untuk lulus dalam ujian itu. Namun bukan berarti pula mustahil dilakukan. Dengannya, terbuka kesempatan bagi mukmin untuk lulus dalam ujian tersebut.”

Itulah ciri-ciri ujian. Lebih lanjut, beliau berkata, “Ujian Allah untuk hamba-Nya tidak sedikit jumlahnya, dan berlaku terus-menerus sejak manusia mendapat beban syariat sampai datangnya kematian. Ujian memiliki variasi tingkat kesulitan. Seorang mukmin harus lulus dalam semua ujian itu untuk membuktikan kebenaran imannya, dan untuk menyelaraskan antara lisan dan hatinya.”

Melalui ikhtiar, kita kembalikan segala sesuatu kepada-Nya. Tidak perlu keluh kesah, tidak perlu hati menjadi keruh karena segala sesuatu telah diatur oleh Allah sendiri serta menempatkan setiap orang pada bagian dan proporsinya masing-masing.

Tanamkan optimisme pada diri kita akan masa depan yang cerah dan fajar kehidupan yang baru, karena Allah tidak memberi ujian dengan maksud menghancurkan kita. Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya jatuh kepada kesengsaraan, selama kita masih tetap berada dalam hukum-hukum-Nya. Dengan ujian itu Allah berkehendak memberi cambuk kecil, membangkitkan diri kita dari kelalaian dengan sedikit perasaan menyesal. Allah bermaksud mengajarkan bahwa dengan kelaparan maka kita akan merasakan arti kenyang, dan dengan rasa lelah maka kita akan mengerti arti istirahat. Dengan ujian-ujian itu kita akan menjadi orang yang pandai bersyukur dan berdzikir.


Daftar Pustaka :
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Lâ Tahzan – Jangan Bersedih”, Qisthi Press, Cetakan Ketiga puluh enam : Januari 2007
  • Djamal’uddin Ahmad Al Buny, “Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)”, Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000
  • Muhammad bin Ibrahim Ibnu ‘Ibad, asy-Syaikh, “Syarah al-Hikam”
  • M. Quraish Shihab, Dr, “‘Menyingkap’ Tabir Ilahi – Al-Asmâ’ al-Husnâ dalam Perspektif Al-Qur’an”, Penerbit Lentera Hati, Cetakan VIII : Jumadil Awal 1427 H/September 2006

Tulisan ini lanjutan dari : Sudah Beriman, Mengapa Hidup Masih Miskin? (2 of 8)
Tulisan ini berlanjut ke : Sudah Beriman, Mengapa Hidup Masih Miskin? (4 of 8)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Wednesday, December 30, 2009

Syair Ibnu Ad-Dahhan

Wahai orang yang terpesona dengan dunia, hati-hatilah

Sesungguhnya ia (dunia) akan sirna dan berubah


Bersungguh-sungguhlah untuk meraih kerajaan yang abadi


Kebaikan apapun dalam syurga Naim akan hilang


Jika kita berfikir, kita tak akan tertawa walau sejenak


Hanya saja kita telah kehilangan akal sihat kita.


Petikan:
Ringkasan Siyar A'lam An-Nubala' karya Imam Az-Zahabi (Buku 4)

Monday, December 28, 2009

Mufti Haji Said Ibrahim, Mufti Sabah Yang Tegas

Mufti Haji Said bin Ibrahim, bekas mufti Sabah, dilahirkan di Kampung Kedai Lalat, Kelantan pada tahun 1923.

Pendidikan

Dalam menimba pengetahuan ilmu agama, beliau telah mengaji sehingga ke Jambi, Sumatera dan Makkah al-Mukarramah. Selain fasih berbahasa Arab, beliau juga terkenal mahir dalam perundangan Islam, aqidah, perbandingan aqidah dan fiqh.

Menjadi Guru

Setelah tamat pengajian, Haji Said telah memulakan karyanya untuk menabur bakti dalam bidang pendidikan dengan menjadi guru seawal tahun 1947 di sekolah-sekolah Arab di Kelantan. Pada tahun 1954, beliau bertukar mengajar ke Madrasah al-Hidayah di Singapura. Semasa di Singapura, beliau telah dipilih menjadi Yang DiPertua PERGAS (Persatuan Ulama dan Guru-Guru Agama Islam Singapura) dari tahun 1963 sehingga tahun 1968. Pada 1968, beliau meninggalkan Singapura untuk berkhidmat di Brunei. Di Brunei, selain mengajar di sekolah menengah Arab, beliau dilantik menjadi penyusun sukatan pelajaran Maktab Perguruan Agama Brunei.

Menjadi Mufti Sabah

Dalam tahun 1971, beliau ke Sabah dan bertugas menjadi Pegawai Agama dan dalam tahun 1972, beliau kembali ke Semenanjung kerana dilantik menjadi Imam Masjid Negara yang disandangnya sehingga tahun 1975. Sebagai seorang yang berpengetahuan luas dalam ilmu-ilmu agama lagi berpengalaman, beliau telah dilantik menjadi Mufti Kerajaan Sabah untuk dua penggal iaitu 1975 - 1978 dan 1985 - 1989. Antara tahun 1978 sehingga 1985, beliau diberi penghormatan sebagai pakar rujuk di Jabatan Agama Islam Wilayah Persekutuan (JAWI).

Berterus-Terang

Sebagai seorang mufti dan pakar rujuk kerajaan, ada ketika pendirian dan pandangannya yang berterus-terang itu menimbulkan polemik dalam kalangan pentadbir dan pemimpin politik dan ada juga yang tidak disenangi. Kadang-kadang kenyataannya yang bersifat politik itu digunakan pula sebagai hujah oleh pihak pembangkang. Said sedar bahawa di pihak kerajaan juga terdapat kesedaran bagi melaksanakan hukum Allah dan kerana itulah beliau berkata benar. Said juga insaf akan kedudukannya sebagai penjawat awam yang terikat dengan pelbagai peraturan.

Pendapat yang dikemukakan oleh Said dalam tulisan-tulisannya terutamanya tentang hukum hudud bukanlah semata-mata bermaksud menyebelahi pembangkang tetapi demi menegakkan kebenaran. Oleh yang demikian pendirian Haji Said ini tidak sepatutnya dilihat sebagai bersikap anti establishment. Pendiriannya yang tidak popular ini lebih didorong oleh sikapnya yang sentiasa berpegang pada kebenaran. Bagi Haji Said, apabila beliau mengkritik kerajaan bukanlah bermakna beliau menentang kerajaan. Tidak ada gunanya jika kita menjadi sokong yang membawa rebah. Memang dalam banyak keadaan kita mesti memilih untuk berubah, jika tidak, kita pasti akan rebah.

Tidak pernah sama sekali kita lihat arwah mengambil jalan tengah semata-mata mahu menyedapkan hati orang tertentu. Beliau menyatakan apa saja kebenaran meskipun pahit untuk ditelan. Demikianlah tegasnya Allahyarham Haji Said Ibrahim dalam menegakkan kebenaran.

Ketegasan Haji Said juga dapat kita lihat dalam beliau menjalani perancangan hidupnya. Setiap kali apabila beliau sudah membuat keputusan, beliau akan menurut apa saja kata hatinya asalkan keputusannya itu diyakininya berada pada landasan syarak. Ketegasannya inilah yang telah menghantarnya jauh hingga ke Makkah meskipun beliau bukanlah datang dari keluarga yang berada.

Demikianlah juga apabila menetapkan hendak ke Singapura dan singgah di Kuala Lipis, beliau mengharunginya dengan yakin dan tabah. Semasa menjadi imam Masjid Negara, beliau pernah memohon cuti untuk mengerjakan haji di Mekah tetapi permohonannya tidak diluluskan atas alasan pentadbiran. Oleh sebab telah memutuskan hendak menunaikan haji sebaik mengetahui permohonannya ditolak dan ini dapat menahan niatnya ke tanah suci, maka, Haji Said terus mengutus surat meletakkan jawatan sebagai imam Masjid Negara. Tidak ada apa yang dapat menghalang niat dan hajatnya kecuali kuasa Allah. Demikianlah ketegasan Said Ibrahim dalam meniti kehidupannya.

Beliau tidak pernah bimbang akan kehilangan pekerjaan kerana Said penuh yakin pintu rezekinya berada pada ketentuan Allah. Tuhan tidak akan melupakan hamba-Nya yang murah hati dengan ilmu. Dengan sedikit sebanyak wang sagu hati yang berikan kepadanya apabila menyampaikan ceramah, wang hasil jualan buku dan honorariumnya menulis di akhbar dan majalah lebih dari cukup untuk beliau menyara hidup lapan orang anaknya dengan serba sederhana.

Sikap kedua yang kental pada Allahyarham Haji Said memang amat langka pada kebanyakan ulama ialah kebolehannya berbahasa Arab dengan fasih, iaitu salah satu bahasa utama di dunia. Beliau juga memiliki pelbagai minat dan kebolehan selain menjadi mufti beliau juga terus menjadi pendakwah bukan sekadar menjalankan kerja pentadbiran di pejabat. Masanya yang cukup padat diisinya juga dengan menulis dan kemudian menjadi editor, melakukan penterjemahan dan juga menjadi penerbit. Jiwanya mendesak Said agar tekun dan rajin menulis tanpa mempedulikan jadual kerjanya yang memang sudah ketat dengan kuliah, ceramah selain urusan pentadbiran di pejabat. Jika terlalu sibuk, Said menulis berdikit-dikit. Sehari sesuku, lama-lama menjadi buku.

Beliau menguasai ilmu mantik dan ilmu logik, ilmu fikah dan tauhid selain bukunya menunjukkan beliau juga memiliki kepakaran dalam ilmu perbankan. Sepanjang hayatnya beliau telah menulis dan menerbitkan lebih dua puluh judul buku dan kitab. Pada hari ini memang boleh dibilang dengan jari seorang ulama yang memiliki kesemua kebolehan ini. Dengan setiap kebolehan inilah yang menjadi ramuan lengkap menghasilkan resipi terbaik yang melengkapkan peribadi Allahyarham Haji Said Ibrahim muncul sebagai seorang ulama terbilang.

Dalam zaman yang serba moden ini, dengan segala kemudahan berkomunikasi dan jalinan pengangkutan yang serba pantas belum tentu setiap orang bersedia meninggalkan kampung halamannya bertahun-tahun untuk menuntut ilmu di tempat yang jauh. Dengan kemudahan penulisan yang serba mudah berbantukan komputer, belum tentu dapat menjadikan semua orang penulis yang prolifik seperti Said Ibrahim.

Karya-karyanya

Selain dari mengajar, Haji Said juga telah menghasilkan lebih daripada 20 buah buku agama yang membicaraan pelbagai aspek seperti fiqh, 'aqidah dan sebagainya. Antara karya beliau:-
  1. Sinaran Fiqh
  2. Mengenal al-Quran
  3. Manasik Haji & Umrah
  4. Qanun Jenayah Syariah
  5. Sistem Kehakiman Dalam Perundangan Islam
  6. Soal - Jawab Nikah Kahwin
  7. Fiqh Mazhab Syafi`i & Pendapat Imam-Imam Mazhab
  8. Perbandingan 'Aqidah & Fahaman Umat Islam
  9. Minhaj Ilmu Fiqh.
Selain tulisan berbentuk buku, beliau telah juga menghasilkan 32 kertaskerja yang dibentangkan dalam pelbagai seminar di peringkat antarabangsa. Beliau juga telah menyumbang tidak sedikit artikel dalam majalah-majalah agama seperti al-Islam, Dakwah, Roh Islam, Sinaran al-Quran dan Tamaddun.

Haji Said terkenal sebagai seorang yang tegas menangani gejala ajaran sesat yang menyalahi pegangan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang sebenar. Karya beliau "Perbandingan Aqidah & Fahaman Umat Islam" dihasilkannya untuk menjelaskan perbezaan firqah-firqah yang sesat seperti Syiah, Khawarij dan sebagainya.

Terbilang

Kerana sifatnya yang terbilang itulah Said Ibrahim dihargai dan diberikan pengiktirafan. Said yang hanya lulus daripada pondok pengajian di Jambi dan kemudian ke Mekah dianugerahkan sarjana kehormat Universiti Kebangsaan Malaysia, sesuatu yang tidak pernah diimpikannya. Pada hujung perjalanan hidupnya beliau berdiri dengan rendah diri di hadapan para sarjana dan cendekiawan pengajian Islam dan pakar pelbagai bidang ilmu yang lain. Pada 1991 Said Ibrahim dianugerahkan Tokoh Maal Hijrah Wilayah Persekutuan.

Selain rumahnya yang sebuah di Gombak, Said Ibrahim tidak meninggalkan harta benda dan kekayaan dunia. Beliau meninggalkan anak-anaknya yang soleh. Sedekah jariahnya yang kita ketahui adalah dalam bentuk bukunya yang dirompak lanun penerbitan. Karyanya disalin dan diulang cetak. Haji Said menghalalkan semua itu demi ilmu dan amalnya. Ilmunya juga banyak sudah ditaburkan selama beliau hidup dan kebanyakannya ditulis dan diterbitkan. Itulah harta peninggalannya yang paling berharga. Said Ibrahim berharap ilmu yang ditinggalkannya itu akan dimanfaatkan oleh umat Islam dan generasi akan datang selepas putus hubungannya dengan dunia yang serba fana ini.

Kembali ke Rahmatullah

Mufti Haji Said meninggalkan dunia yang fana ini pada tahun 2001 dalam usia 78 tahun dengan meninggalkan 8 orang anak serta ribuan anak murid. Sepanjang hayatnya, beliau tidak jemu-jemu menyumbangkan tenaga dan idea dalam memartabatkan Islam. Mudah-mudahan segala amalnya dinilai sebagai ibadah yang tulus dan rahmat Allah yang berkekalan dicucuri atas beliau.

Buku Said Ibrahim Mufti Tegas dan Terbilang

Buku karya Roosfa Hashim, pensyarah di pusat pengajian umum, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Terbitan Pustaka Yamien, cetakan pertama tahun 2009. Memuatkan sedikit sebanyak biografi Mufti Haji Said Ibrahim, ulama yang gigih berdakwah dan menyebarkan ilmu. Sesekali elok juga kita membaca mengenai tokoh - tokoh ulama kita, agar nama dan jasa mereka kita ketahui. Jasa dan pengorbanan para ulama kita, hendaknya jangan dilupakan. Jangan hanya kagum dengan pemimpin duniawi dan meninggalkan penyuluh ke jalan Ilahi. Antara petikan yang dimuatkan dalam buku tersebut adalah kata-kata Ustaz Datuk Haji Ismail Kamus seperti berikut:
"Banyak jasa beliau kepada negara ini. Haji Said juga seorang ulama yang berani, tegas dan berpendirian. Beliau sangat disenangi oleh kawan dan rakan. Seorang yang sangat mengambil berat kepada semua anak didiknya. Beliau tidak pernah jemu menulis dan berdakwah sehingga ke akhir hayat beliau."

Siddiq Hasan Khan, Ulama Hadis India

Beliau ialah al-Imam al-’Allamah al-Usuli al-Muhaddis al-Mufassir as-Sayyid Siddiq bin Hasan bin Ali bin Lutfullah al-Husaini al-Bukhari al-Qinnauji. Nasab beliau berakhir pada Imam Husein, cucu terkecil dari Ali bin Abi Talib radiyallahu ‘anhu.

Beliau dilahirkan pada bulan Jamadilawal tahun 1248 H/1832M di negeri Berlhi tanah air datuknya yang terdekat dari pihak ibu. Kemudian keluarga beliau pindah ke kota Qinnauj, tanah air datuk-datuknya. Ketika tahun keenam ayahnya wafat, tinggallah dia di bawah asuhan ibunya dalam keadaan yatim. Sejak kecil, Siddiq tumbuh sebagai seorang yang afif (memelihara diri), bersih dan cinta kepada ilmu dan para ulama.

Ilmu dan Belajarnya

Beliau safar ke Delhi untuk menyempurnakan pelajarannya di sana. Beliau bersungguh-sungguh mendalami al-Quran dan as-Sunnah dan membukukan ilmu keduanya. Beliau memiliki keinginan yang kuat untuk mengumpulkan buku-buku, mendapatkan pemahaman tambahan dalam membacanya serta meraih faedah-faedahnya, khususnya kitab-kitab tafsir, hadits dan ushul. Kemudian beliau safar ke Bahubal untuk mencari biaya penyambung hidup beliau. Di sana beliau mendapatkan faedah besar, yaitu menikah dengan Ratu Bahubal dan beliau digelari dengan Nawwab Jaah Amirul Malik bi Hadar.

Guru-gurunya

Guru beliau cukup banyak, di antaranya Syeikh Muhamad Ya’qub, saudara Syeikh Muhammad Ishaq cucu Syeikh al-Muhaddis Abdul Aziz Ad-Dahlawi. Di antara guru beliau juga Syeikh al-Qadi Husein bin al-Muhsin As-Sa’bi al-Ansari al-Yamani al-Hadidi, murid dari Asy-Syarif Imam Muhammad bin Nashir Al-Hazimi murid dari Imam Asy-Syaukani. Guru beliau juga adalah Syeikh Abdul Haq bin Fadl al-Hindi, murid dari Imam Asy-Syaukani juga dan masih banyak lagi.

Karya-karyanya

Dalam mengarang, beliau memiliki kemampuan yang menakjubkan, iaitu dapat menulis beberapa kitab dalam satu hari dan mengarang beberapa kitab tebal dalam beberapa hari. Karya beliau dalam beberapa bahasa hingga 222 buah. Demikian yang dihimpun oleh Syeikh Abdul Hakim Syafaruddin, pentashih dan penta’liq kitab At-Taajul Mukallal. Beliau berkata, “Di antaranya 54 berbahasa Arab, 42 berbahasa Parsi dan 107 dengan bahasa Urdu”. Dan beliau belumlah menghitung jumlah yang sebenarnya.

Kitab-kitab beliau memenuhi dan mencapai segala penjuru dunia islam. Banyak para ulama tafsir dan hadits yang menulis risalah tentang beliau yang berisi pujian kepada kitab-kitabnya dan mendoakan kebaikan kepada beliau. Beliau juga dianggap sebagai tokoh kebangkitan Islam dan mujaddid. Di antara karya beliau yang tercetak dengan bahasa Arab:
• Fathu Bayaan fi Maqashisil Qur’an
• Nailul Maran min Tafsiiri Aayatil Ahkam
• Ad-Dinul Khalish
• Husnul Uswah bimaa Tsabata ‘anilhiwa Rasuulihi fin Niswah
• ‘Aunul Bari bi Halli Adillatil Bukhari
• As-Sirajul Wahhaj min Kasyfi Mathaalihi Shahihi Muslim bin Al-Hajjaj
• Al-Hittah fi Dzikrish Shihabis Sittah
• Quthfus tsamar fii Aqidatil Atsar
• Al-Ilmu Khaffaq fil Ilmil Itsiqaq
• Abjadul Ulum
Dan masih banyak lagi.

Wafatnya

Beliau wafat pada tahun 1307 H, bertepatan dengan 1889 M. Maka masa kehidupan beliau adalah 59 tahun qamariyah atau 57 tahun syamsiah. Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas.

Rujukan:
Indahnya Surga Dahsyatnya Neraka, karya Syeikh Ali Hasan, terbitan Pustaka Al-Haura’, Jogjakarta, halaman 81-84

Catatan:
Di atas beliau digelari dengan al-’Allamah al-Usuli al-Muhaddis al-Mufassir as-Sayyid. Ertinya adalah sebagai berikut:
• al-’Allamah : Orang yang banyak sekali ilmunya
• al-Usuli: Ahli ilmu usul (ilmu-ilmu dasar dalam agama)
• al-Muhaddis: Ahli dalam ilmu hadis
• al-Mufassir: Ahli tafsir
• Adapun as-Sayyid, belum didapatkan maksudnya apa. Mungkin beliau digelari dengan as-Sayyid kerana beliau masih keturunan Ali bin Abi Talib radiyallahu ‘anhu, wallahua’lam.

Sunday, December 27, 2009

Video Dr Yusuf al-Qaradawi di Malaysia

Dr Yusuf al-Qaradawi - Fiqh Al-Jihad



Dr Yusuf al-Qaradawi di Shah Alam

Friday, December 25, 2009

Riwayat Cinta Rasulullah SAW, Sahabat Nabi dan Ulama'

Pada Aisyah, Ia Dapati Rehat Penuh Cinta

Orang yang lebih tampan dari dirimu, belum pernah mata ini melihatnya
Orang yang lebih sempurna darimu, belum pernah dilahirkan wanita
Engkau diciptakan bersih dari semua cacat dan noda
Seolah kau dicipta, sepert
i yang kau suka
(Aisyah radiyallahu 'anha)

Inilah syair yang digubah Aisyah untuk suami tercinta, Muhammad sallallahu 'alaihi wa sallam. Aisyah, selalu menghadirkan keceriaan di tengah tugas-tugas berat Rasulullah memikul amanah risalah akhir zaman.

"Nabi sallallahu 'alaihi wa sallam biasa meletakkan kepala di pangkuanku walaupun aku sedang haidh, kemudian beliau membaca al-Quran." (Riwayat Abdurrazaq)

"Dari Aisyah, sesungguhnya suatu kali Rasulullah memegang erat tangannya sambil berkata, "Seandainya kaummu mahu mengerti...Dahulu Kaabah roboh oleh banjir. Kalau saja bukan kerana mereka baru saja lepas dari kemusyrikan, nescaya aku bangun Kaabah di atas dasar-dasar yabg dibangun Ibrahim dan Ismail. Kupasangkan batu itu (hijr Ismail) padanya kerana memang bahagian darinya. Aku telah meletakkan di tempat tersebut dua pintu yang aku letakkan dekat tanah. Tetapi kaumu mengangkat pintunya agar tak ada yang bisa masuk kecuali yang mereka kehendaki... (Riwayat Ibnu Asakir)

Pada Nailah, Kita Belajar Ketulusan

Tamadhar, isteri mulia, Abdurrahman ibn 'Auf berkata kepada Usman ibn Affan Radiyallahu 'anhu, "Bersediakah engkau menikah dengan puteri pamanku, seorang gadis yang cantik, tubuhnya padat, pipinya lembut dan fikirannya cerdik?"

"Insya Allah", jawab Usman, "Siapakah dia?"

"Nailah binti al-Farafishah al-Kalbiyah"

Sesudah menikah, Usman bertanya pada Nailah, "Pastinya kau tidak suka melihat ketuaanku ini?"

Nailah tersenyum dan menunduk sambil berkata, "Saya termasuk wanita yang lebih suka memiliki suami lebih tua."

"Tapi aku telah jauh melampaui ketuaanku?"

Kembali Nailah tersenyum dan berkata, "Tapi masa mudamu sudah kau habiskan bersama Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam. Dan itu jauh lebih aku sukai dari segala-galanya."

Waktu berlalu, hari berganti dan bulan terus berjalan, Nailah yang telah melahirkan Maryam dan Anbasah binti Usman dari pernikahan ini tetap setia mendampingi suami tercinta. Hingga ketika hari itu tiba, saat pasukan pembangkang mengepung rumah Usman, lalu mereka menerobos masuk dan mendapati beliau sedang tilawah. Tanpa menggubrisnya mereka mengayunkan pedang-pedang terlaknat ke tubuh tua beliau. Nailah, sang bidadari, segera menjatuhkan tubuh ke pangkuan Usman untuk melindunginya. Dan, ya.., jari-jari tangan perempuan tulus itu putus.

Ketika akhirnya Usman wafat dalam kemuliaan, Muawiyah ibn Abu Sufyan mengirim utusan untuk meminang Nailah. Tapi apa jawaban Nailah? "Tidak mungkin ada seorang manusia pun yang bisa menggantikan kedudukan Usman di dalam hatiku."

Apakah faktor usia memang tidak akan menjadi masalah dalam pernikahan? Tergantung, jawabnya ada pada masing-masing kita. Di kisah ini, Usman berusia 81 sedang Nailah 18. Ternyata Nailah membuktikan ketulusan cintanya.

Jangan difikir hanya lelakinya yang selalu lebih tua. Zaid ibn Haritsah, semula adalah putera angkat Rasulullah, menikah dengan Ummu Aiman yang merupakan pengasuh Rasulullah saat beliau bayai. Nah? Apa motivasinya hingga Zaid begitu bangga menikahi Ummu Aiman? Tentu kalimat Rasulullah yang berbunyi, "Barangsiapa ingin menikahi wanita ahli syurga, maka nikahilah Ummu Aiman!"

Jus Mangga Tilmisani: Kenangan, Kesetiaan

Pada suatu Ramadhan, Ustaz Umar At-Tilmisani diundang untuk menghadiri pertemuan di Iskandariah. Para pengundang menyiapkan hidangan berbuka puasa untuk beliau, Di antara hidangan tersebut terdapat jus mangga. Salah seorang ikhwan menyuguhkan segelas jus mangga kepada beliau. Beliau meminta maaf sambil mengatakan bahawa beliau tidak dapat menerima dan meminumnya.

Sebahagian hadirin memperhatikan adanya perubahan pada air muka beliau. Mereka pun bertanya, "Apakah ustaz alergi pada jus mangga. Ataukaj jus mangga bisa menganggu kesihatan ustaz?"

"Tidak..". jawab beliau.

Setelah berbuka, hadirin begitu penasaran mengapa beliau tidak mahu memnum jus mangganya. Mereka terus mendesak beliau untuk menjelaskannya.

"Apabila saya terlambat pulang kerja", kata beliau, "Al-Marhumah isteri saya selalu menunggu dengan sabar sembari menyiapkan dua gelas jus mangga. Kemudian kami berdua meminumnya bersama-sama. Sekarang, isteri saya sudah wafat. Saya tetap merasa berat untuk meminum jus mangga sendirian. Sya tak bisa meminumnya tanpa dia."

"Saya", lanjut beliau, "Selalu memohon kepada Allah agar Ia mempertemukan kami berdua di syurga. Lalu, kami dapat bersama-sama menikmati minuman syurga. Lalu, kami dapat bersama-sama menikmati minuman syurga.."

Subhanallah!

Petikan:
Agar Bidadari Cemburu Padamu karya Salim A. Fillah

Sudah Beriman, Mengapa Hidup Masih Miskin? (2 of 8)

Ibnu Khaldun dalam kitabnya yang berjudul “Muqaddimah” menjelaskan bagaimana naluri kepemilikan itu kemudian mendorong manusia bekerja dan berusaha. Hasil kerja tersebut apabila mencukupi kebutuhannya, dalam istilah agama disebut rizqi (rejeki) dan bila melebihinya disebut kasb (hasil usaha). Seorang penyair berkata :

Jika engkau punya ide, maka segera satukan tekad untuk melakukannya
Sebab rusaknya ide itu karena keraguan semata

Dengan demikian, kerja dan usaha merupakan dasar utama dalam memperoleh kecukupan dan kelebihan. Janganlah kita bermalas-malas, pesimis apalagi berputus asa dari rahmat-Nya. Andaikata rasa putus asa itu tiada akan pernah sirna, niscaya kehidupan ini akan menjadi gelap.

Kesulitan hidup akan berubah, belenggu kehidupan akan berujung pada kebahagiaan. Seandainya rasa takut itu kekal, maka jiwa manusia akan sia-sia. Sejatinya setiap ada ketakutan pasti akan berganti dengan ketenangan dan kedamaian. Andaikata kesedihan itu tiada berakhir, niscaya hati manusia akan berguncang. Hakikatnya, setiap kesedihan akan berujung pada suka cita.

Pandanglah dari celah pintu harap agar kita melihat alam yang terbuka, taman harapan yang menghijau dan kebahagiaan yang menyongsong; agar kita menyaksikan perhatian Tuhan menyelimuti diri kita, serta kelembutan-Nya mendekap kita.

Rasulullah saw. pernah bersabda dalam hadits-hadis beliau agar kita bekerja keras, tidak bersedih hati apalagi patah semangat.

َلأَنْ يَّأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ فَيَأْتِى بِحُرْمَةٍ مِنْ حَطَبٍ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَـبِيْعُهَا فَيَكُفَّ اللهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْـأَلَ النَّاسَ أَعْطَوْهُ أَوْمَنَعُـوْهُ

Salah seorang di antara kamu mengambil tali, kemudian membawa seikat kayu bakar di atas punggungnya lalu dijualnya, sehingga ditutup Allah air mukanya, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang, baik ia diberi atau ditolak.
(HR Bukhari)

اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْـتَعِنْ بِاللهِ، وَلاَ تَعْجَزْ

Kerjakanlah sesuatu yang bermanfaat bagimu dengan sungguh-sungguh, memohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan patah semangat.

(HR Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad)

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوْذُبِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sikap ragu-ragu untuk bertindak dan kesedihan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari lemah bertindak (pesimis/putus asa) dan malas. Dan aku berlindung kepada-Mu dari sikap pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan penindasan (tindak semena-mena) orang-orang kepadaku.
(HR Abu Daud)

Dalam Al-Qur’an telah ditegaskan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib kita, jika kita tidak mau berusaha mengubahnya.

إِنَّ اللهَ لاَيُغَـيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتـّىٰ يُغَـيِّرُوْا مَا بِأَنْفُسِـهِمْ
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS ar-Ra‘d [13] : 11)

Kalau di tempat kita berdomisili tidak ditemukan lapangan pekerjaan, Al-Qur’an menganjurkan kepada kita untuk berhijrah mencari tempat lain. Pasti kita akan menemukan di bumi ini, tempat perlindungan yang banyak rejekinyaز

Siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rejeki yang banyak. (QS an-Nisâ’ [4] : 100)

Tsabit ibn Zuhair berkata :

Jika seseorang tidak berusaha
Padahal nasibnya telah mengharuskannya berusaha
Dia telah menyia-nyiakan nasibnya itu, dan akan ditinggalkan
Namun orang yang bertekad baja tidak pernah menyerah pada ujian
Akan selalu melihat masalah dengan mata terbuka
Dia adalah penembus zaman, yang selalu bergerak
Jika ditutup satu pintu, dia akan menerobos pintu yang lain

‘Aidh al-Qarni berpesan, “Jika Anda meyakini diri Anda diciptakan hanya untuk meraih hal-hal kecil, maka Anda pun hanya akan mendapatkan yang kecil-kecil saja. Tapi sebaliknya, bila Anda yakin bahwa diri Anda diciptakan utuk menggapai hal-hal besar, niscaya Anda akan memiliki semangat dan tekad besar yang akan mampu menghancurkan semua aral dan hambatan.”

“Dengan semangat itu pula Anda akan dapat menembus setiap tembok penghalang dan memasuki lapangan kehidupan yang sangat luas untuk suatu tujuan hidup mulia. Ini dapat kita saksikan dalam kenyataan hidup. Siapa ikut lomba lari seratus meter misalnya, ia akan merasa capek tatkala telah menyelesaikanya. Lain halnya dengan seorang peserta lomba empat ratus meter, ia belum merasa capek tatkala sudah menempuh jarak seratus atau dua ratus meter. Begitulah adanya, jiwa hanya akan memberkan kadar semangat sesuai dengan kadar atau tingkatan sesuatu yang akan dicapai seseorang. Maka, pikirkan setiap tujuan Anda. Dan jangan lupa, hendaklah tujuan Anda selalu tinggi dan sulit dicapai,” kata ‘Aidh Al-Qarni meneruskan nasihatnya.


Daftar Pustaka :
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Lâ Tahzan – Jangan Bersedih”, Qisthi Press, Cetakan Ketiga puluh enam : Januari 2007
  • Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâniy
  • M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007


Tulisan ini lanjutan dari : Sudah Beriman, Mengapa Hidup Masih Miskin? (1 of 8)
Tulisan ini berlanjut ke : Sudah Beriman, Mengapa Hidup Masih Miskin? (3 of 8)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Toggle